BMKG dorong langkah kolaboratif penanggulangan perubahan iklim di WWF 2024

Bagikan Sekarang :

SEPUTAR KABINET - Krisis air merupakan ancaman yang serius dan nyata sehingga semua negara di dunia harus turut prihatin. Oleh karena itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mendorong pertemuan World Water Forum (WWF) ke-10 yang digelar di Bali pada 18-25 September 2024, menjadi motor penggerak menemukan solusi umum untuk memecahkan masalah ini.

“Mencapai keadilan, ketersediaan dan kualitas air saat ini tidak dianggap adil di tingkat global atau regional. Ini adalah sesuatu yang harus didorong untuk didiskusikan nanti. Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan secara kooperatif,” kata Dwikorita pada Forum Merdeka Barat (FMB) ke-9 bertajuk “Kerja Sama Tangguh Mengatasi Tantangan Perubahan Iklim” hari ini Senin (1 April 2024), di Jakarta.

Dwikorita berpendapat salah satu penyebab utama krisis air adalah terus meningkatnya emisi gas rumah kaca yang berdampak pada meningkatnya laju kenaikan suhu udara.

Akibatnya, pemanasan global terus berlanjut dan berdampak pada perubahan iklim yang dapat menyebabkan krisis air, pangan, bahkan energi.

Baca juga: KEJAKSAAN AGUNG MENYITA LAHAN MILIK HERU HIDAYAT SELUAS 1,99 HEKTARE TERKAIT KASUS JIWASRAYA DAN ASABRI

Meningkatnya frekuensi, intensitas dan durasi bencana hidrometeorologi juga menjadi permasalahan, tambahnya.

Berdasarkan data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang dikumpulkan dari observasi di 193 negara, BMKG memperkirakan dalam beberapa tahun mendatang akan terjadi titik air atau daerah kekeringan di berbagai negara.

“Artinya banyak tempat akan mengalami kekeringan. [Ini bisa terjadi] baik di negara maju maupun berkembang. Amerika, Afrika, dan negara-negara lain juga [terdampak],” kata Dwikorita.

Di sisi lain, lanjut Dwikorita, terdapat wilayah di dunia yang aliran air sungainya melebihi batas normal atau melebihi batas jika terjadi banjir.

Situasi ini merupakan bukti bagaimana perubahan iklim terjadi di setiap negara di dunia dan dampaknya akan semakin buruk jika upaya mitigasi kolektif tidak dilaksanakan.

Baca juga: MENTERI KOORDINATOR KEMENTERIAN PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN MENKO PMK: ANAK ACEH MEMENUHI PERSYARATAN SDM YANG UNGGUL

Dalam kesempatan tersebut Dwikorita menyampaikan, saat ini Indonesia belum terdeteksi menjadi hotspot air, namun bukan berarti kekeringan tidak terjadi dalam skala lokal.

Dwikorita mengatakan, jika kita lengah dan tidak meminimalisir dampaknya, diprediksi pada tahun 2045-2050, saat Indonesia memasuki masa keemasannya, akan terjadi perubahan iklim dan krisis pangan.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) beberapa waktu lalu memperkirakan bahwa pada tahun ini, krisis pangan akan terjadi di hampir setiap negara di dunia.

Tidak main-main, sekitar 500 juta petani kecil yang memproduksi 80% pangan dunia adalah kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

“Cuaca ekstrem, iklim ekstrem, dan kejadian terkait air lainnya menyebabkan 11.
778 bencana antara tahun 1970 hingga 2021,” ujarnya.***

Tags , , , , , , ,
Category Sosial, Kementerian,

Comments

We love comments

Comments